
Danpuspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto konpers empat anggota terlibat penyiraman air keras Andrie Yunus KontraS. (Nur Habibie/merdeka.com)
AK47, Jakarta - Kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, kini berubah dari sekadar tindak kriminal menjadi dugaan skandal besar yang menyeret internal Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Empat anggota aktif TNI Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES resmi ditahan dan diperiksa di Puspom TNI. Yang membuat publik tersentak: mereka disebut berasal dari BAIS, badan intelijen strategis militer. Ini bukan sekadar pelaku lapangan ini lingkaran dalam intelijen.
Komandan Puspom TNI, Yusri Nuryanto, mengakui penyelidikan masih berjalan. Namun satu isu yang kini tak bisa dihindari: apakah aksi ini operasi liar, atau bagian dari perintah terstruktur?
“Motif dan kemungkinan adanya perintah masih kami dalami,” ujarnya.
Teror Terencana? Indikasi Kuat Muncul
Rekaman CCTV memperlihatkan dua eksekutor menyiram air keras ke korban. Tapi TNI justru mengamankan empat orang. Artinya, dugaan keterlibatan tidak berhenti pada pelaku lapangan.
Ada indikasi kuat operasi ini tidak berdiri sendiri:
- Ada yang mengawasi target
- Ada yang menyiapkan serangan
- Ada yang memastikan eksekusi berjalan
Dengan latar belakang intelijen, publik pun bertanya: apakah ini misi pribadi, atau operasi yang lebih sistematis?
Arah Mengarah ke “Aktor Besar”?
TNI mengakui awalnya menemukan “kejanggalan” dari penyelidikan internal, sebelum akhirnya mengerucut ke empat nama tersebut. Namun hingga kini, peran masing-masing masih belum dibuka ke publik.
Yang paling mengkhawatirkan: kemungkinan adanya aktor intelektual di balik serangan ini.
Jika benar ada perintah dari atasan, maka kasus ini tidak lagi sekadar kriminal, melainkan menyentuh isu serius:
- penyalahgunaan kekuasaan
- pelanggaran hukum oleh aparat
- ancaman terhadap aktivis HAM
Ujian Transparansi TNI
TNI berjanji akan mengungkap semuanya siapa berperan apa, siapa menyuruh, dan apa motif sebenarnya. Tapi publik kini menunggu lebih dari sekadar janji.
Kasus ini menjadi sorotan tajam: apakah institusi militer berani membuka jika ada “orang besar” di baliknya?
Jika terbukti terstruktur, maka ini bukan hanya serangan terhadap satu orang, melainkan pukulan keras terhadap rasa aman dan kebebasan sipil di Indonesia.
(AK)
#KontraS #TNI #Headline